Ling Mei segera menyadari ada yang berbeda dari sikap para tetua, terutama Tetua Huang. Mata mereka, yang biasanya penuh ketegasan atau perdebatan, kini dihiasi kegelisahan yang tak tersembunyi. Merasa ada sesuatu yang janggal, ia mendekat dengan niat menyelidiki.

"Murid Ling Mei memberi hormat," ucapnya sambil membungkuk anggun, menunjukkan rasa hormat yang tulus.

"Bagus, kamu sudah kembali, Ling Mei. Tak terasa sudah tiga minggu sejak kamu meninggalkan sekte," ujar salah satu tetua wanita dengan nada lembut, meskipun ekspresinya tak dapat menyembunyikan kegelisahan.

"Keberangkatan kami tertunda karena situasi mendesak. Selain itu, ada hal penting yang harus saya laporkan segera," kata Ling Mei, matanya menyiratkan tekad yang kuat.

Para tetua saling bertukar pandang sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah, mari kita bicara di ruang pertemuan," kata Tetua Huang.

***

Begitu memasuki ruang pertemuan, Ling Mei semakin yakin ada sesuatu yang salah. Biasanya, para tetua akan sibuk memperdebatkan berbagai hal, tetapi kali ini mereka hanya duduk dalam diam. Suasana terasa begitu berat, seolah ada sesuatu yang menekan mereka.

"Baiklah, Ling Mei," ujar Tetua Huang akhirnya, suaranya sedikit lebih kaku dari biasanya. "Ketua sekte sedang dalam urusan penting dan tidak dapat diganggu. Laporkan saja padaku, nanti aku yang akan menyampaikannya."

Ling Mei mengangguk, lalu dengan tenang menceritakan kejadian di Kota Huoling—mulai dari serangan seorang Grandmaster, energi iblis yang mengamuk akibat ulah Yin Yue, seorang wanita yang menyamar untuk dengan membuka rumah makan besar bernama Paviliun Seribu Rasa, hingga bagaimana wanita itu berhasil mendapatkan fragmen senjata iblis. Saat menyebutkan bagaimana energi iblis mengakibatkan puluhan penduduk tewas, beberapa tetua menarik napas terkejut.

"Tak kusangka... fragmen senjata iblis ternyata tersembunyi di Kota Huoling," gumam Tetua Huang, ekspresinya mengeras.

"Lalu bagaimana dengan penduduk lainnya? Bagaimana mereka bisa selamat dari serangan energi iblis? Biasanya energi itu tidak akan berhenti begitu saja, ia akan terus menyebar dan menginfeksi siapa pun di sekitarnya," tanya seorang tetua dengan nada cemas.

"Berkat salah satu artefak yang dimiliki walikota serta seseorang yang membantu, energi iblis itu berhasil ditahan dan akhirnya dimusnahkan," jawab Ling Mei. Ia sengaja tidak menyebut nama Xiao Ling, khawatir para tetua akan banyak bertanya tentangnya dan menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu.

Namun, semakin ia memperhatikan, semakin jelas ada sesuatu yang tidak beres. Biasanya, kabar mengenai senjata iblis akan langsung memicu diskusi panjang, namun kali ini... mereka hanya saling bertukar pandang, lalu tanpa banyak kata, mereka pergi ke tempat pelatihan masing-masing.

Ling Mei mengerutkan kening. "Aneh... Mengapa mereka bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? Seharusnya ini menjadi masalah besar..."

"Ling Mei, kemarilah," panggil Tetua Huang.

Ling Mei melangkah mendekat. Tetua Huang mencoba tersenyum, tapi ada kegelisahan dalam sorot matanya.

"Tetua," Ling Mei memberi hormat.

"Ling Mei, masalah fragmen senjata iblis ini bukanlah perkara kecil. Untuk saat ini, jangan bicarakan hal ini dengan siapa pun. Beristirahatlah, biarkan kami yang mengurusnya," ujar Tetua Huang, nadanya sarat kewaspadaan.

"Baik, Tetua. Namun, saya ingin bertanya... ke mana Tetua Ling Juan? Saya tidak melihatnya sejak saya kembali," tanya Ling Mei, suaranya hati-hati.

Ekspresi Tetua Huang menegang sesaat. Ia terbatuk ringan, lalu berkata, "Ayahmu sedang bersama Ketua Sekte sekarang. Urusannya penting, jadi dia belum bisa menemuimu. Bersabarlah, dia pasti akan menemui kamu nanti."

Setelah berkata demikian, Tetua Huang segera berbalik dan pergi tanpa menunggu tanggapan.

Ling Mei berdiri diam di tempatnya. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi—sesuatu yang mereka sembunyikan darinya. Namun untuk saat ini, yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu... dan bersabar.

Di dalam kamarnya yang tenang, Ling Mei duduk merenung, tenggelam dalam pikirannya tentang kejadian di ruang pertemuan tadi. Selama tiga tahun terakhir, para tetua selalu bersikap ramah dan terbuka kepadanya, meskipun ada bagian dari hidupnya yang tetap menjadi misteri akibat ingatan yang hilang. Hanya ingatan tiga tahun terakhir yang jelas di benaknya, namun kehangatan sikap para tetua selalu memberinya kenyamanan.

Ayahnya, Wakil Ketua Sekte Api Langit, pernah mengatakan bahwa ilmu kultivasi yang salah latih menyebabkan tubuhnya terluka dan ingatannya terganggu. Dalam sekte, hanya beberapa murid inti yang dikenalnya.

Para tetua sering mengatakan bahwa sifatnya yang dingin disebabkan oleh kecintaannya pada latihan yang keras, membuatnya jarang bergaul. Namun, sejak keluar dari pelatihan tertutup beberapa tahun lalu, sikapnya yang dingin mulai mencair, terutama sejak kedatangan Li Wei, seorang murid baru yang penuh energik dan membawa keceriaan dalam kehidupannya.

Ling Mei menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya. Ada sesuatu yang mengganggu, namun ia tahu harus bersabar dan menunggu hingga petunjuk berikutnya muncul. Untuk saat ini, ia memutuskan untuk mengosongkan pikirannya dan memusatkan Qi-nya, berharap bisa mendapatkan pencerahan dalam meditasi.

Namun, bukannya tenang, pikiran Ling Mei justru terusik oleh sosok pemuda yang baru dikenalnya. Bayangan pemuda itu kembali muncul, mengusik ketenangannya.

"Kenapa aku merasa sangat mengenal pemuda itu, padahal jelas-jelas ini pertama kali aku melihatnya? Tapi siapapun dia, aku harus membuat perhitungan dengannya karena telah menodai kehormatanku," pikir Ling Mei dengan hati yang berkecamuk.

Di satu sisi, ada perasaan yang sulit diutarakan tentang pemuda tersebut, seolah ada ikatan yang tak terlihat, namun di sisi lain, kemarahan membara dalam dirinya terhadap pemuda yang telah merenggut kesuciannya. Kebingungan dan kemarahan beradu, membuat hatinya gelisah.

Setelah berjuang keras dengan pikirannya, akhirnya Ling Mei berhasil menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam dan membiarkan Qi-nya mengalir dengan lembut. Perlahan, ia mencapai keadaan meditasi yang khusyuk.

***

Malam itu, Ling Mei terbangun dengan perasaan gelisah. Kekhawatiran menggelayuti pikirannya, terutama karena ayahnya belum juga datang menemuinya. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera menuju kamar yang khusus disediakan untuk para tetua.

Namun, ketika memasuki ruangan itu, Ling Mei mendapati tidak ada tanda kehidupan. Ruangan tersebut tampak seolah sudah lama tidak disentuh oleh kehadiran manusia.

Dengan kebingungan, Ling Mei memandang sekeliling. "Apa yang sebenarnya dilakukan Ayah dengan Ketua? Mengapa hingga berhari-hari tidak pulang?" pikirnya penuh kekhawatiran.

Dalam perjalanan kembali ke kamarnya, Ling Mei melihat seorang tetua berkelakuan mencurigakan, bergerak diam-diam menuju area terlarang dengan cara yang sangat berhati-hati.

Ling Mei segera bergerak dengan tenang, mengikuti tetua yang menuju area terlarang kuburan para leluhur. Hanya Ketua Sekte atau mereka yang memiliki izin khusus yang boleh memasukinya.

Dengan rasa curiga dan penasaran yang membara, Ling Mei mengikuti tetua tersebut dengan hati-hati. Meski ranah yang dimiliki tetua itu cukup tinggi, Ling Mei menggunakan keterampilannya untuk tetap tersembunyi.

Untuk pertama kalinya, Ling Mei memasuki tempat tersebut, menemukan lorong-lorong berliku yang bisa menyesatkan. "Aneh, kenapa lorong-lorong ini mengingatkanku pada suatu tempat? Tapi di mana aku pernah melihatnya?" pikir Ling Mei, mencoba mengingat.

Dengan kemampuan dan kepekaan indra penciumannya, Ling Mei mengikuti jejak aroma yang ditinggalkan tetua tersebut. Hingga akhirnya, ia tiba di suatu tempat yang sangat dalam dan mendengar percakapan yang samar namun penuh ketegangan.

"Jadi kalian tidak bisa mendapatkan petunjuk di mana wanita yang mendapatkan fragmen senjata iblis tersebut?" Suara itu membentak dengan nada marah, menunjukkan otoritas yang menakutkan.

Dari suaranya, Ling Mei memperkirakan orang tersebut sudah sangat tua.

"Berikan kami waktu lagi, Tuan. Anggota kami sudah disebar ke seluruh pelosok untuk menemukan wanita tersebut," jawab suara tetua yang tidak asing di telinga Ling Mei.

"Bagaimana dengan kunci yang kutunggu? Kepalamu sebagai gantinya jika kunci tersebut tidak segera ditemukan. Aku tidak mau ada lagi yang mendahului kita mendapatkan fragmen senjata iblis tersebut," kata pria tua itu dengan nada ancaman yang dingin.

"Kamu tidak akan pernah mendapatkannya." Suara lain terdengar. Ling Mei merasa kaget karena dia mengenali suara itu adalah suara Ketua Sekte.

Ling Mei menahan napas, menyadari bahwa situasinya lebih serius dari yang dia bayangkan. Dengan hati berdebar, ia berusaha mengingat setiap detail percakapan yang mungkin berguna nanti.
